Rabu, 15 April 2009
Kerinduan
Ketika kita stagnan dalam hidup maka yang terjadi adalah kehidupan yang mati.
Kita harus bergerak melangkah meski dengan kaki tertatih bahkan terluka karena disitulah seni dari kehidupan.
Apabila kita mudah menyerah dalam kehidupan ini maka hilanglah rasa seni itu sendiri dan terhapuslah semua karya yang telah kita perbuat.
Jadi bagaimana kita memelihara karya dari kehidupan kita agar siapapun yang melihat dan bersentuhan dengan kita akan merasakan keindahan dari segala bentuk sentuhan kehidupan kita.
Terkadang didalam menciptakan karya terdapat goresan yang membuat karya itu cacat namun seriring dengan berjalannya kedewasaan kita maka kita berusaha untuk memperbaiki karya tersebut dan mempersembahkan yang terbaik untuk Allah dan juga kepada setiap insan.
Semoga hari-hari yang kulalui mampu menghasilkan karya yang indah untuk Allah juga teruntuk suamiku tercinta.
Senin, 05 Januari 2009
Kicauan burung mendamaikan jiwa
Rindangnya pepohonan menghangatkan raga
Damainya alam menggugah perasaan
Keseimbangan segala ciptaan yang tiada tandingan
Segalanya tiada mampu menyentak jiwa
Hanya sekedar mengingat siapa penciptanya
Membatukah hatiku
Menjadi karangkah hatiku?
Tiada tersentuh kalbuku dengan melihat kebesaranNya
Tiada kuterhenyak dari mimpi panjanku
Tiada tergerak ragaku tuk segera menyambutNya
Tiada kuterbangun dari lamunan yang melenakan
Inilah diriku yang berselimut dosa berkarat
Berbantalkan maksiat
Bergumul dengan syahwat
Bercengkerama dengan kawat tersesat
Alam kesadaran tlah terbuka
Tapi hanya sekedar mengingatNya
Itupun tiada berselang lama
Hanya sesaat yang sangat menyiksa
Ya Robb, betapa kelu bibirku
Hanya sekedar melafalkan namaMu
Apa karena menggunungnya dosaku
Hingga Engkau menjauhiku
Sering kubercerita padaMu
Tentang dosa-dosa yang lalu
Yang sering kuingkari dan tak kuakui
Namun seiring berjalannya waktu
Kembali keterperosok dalam rayuan nafsu
Lagu rindu berseru dalam kalbu
Nyanyian waktu dikala tidak bertemu
Seakan terus melaju inginkan bersatu
Dalam waktu yang terus berlalu
Tapi rindu pada Rabbku lebih menggebu
Menerjang batas ruang dan waktu
Untaian do'a mengalun syahdu
Berarak airmata kepedihan dan pilu
Teringat noda berserak tak menentu
Lukisan hati tak seputih salju
Ternoda oleh bisikan indahnya nafsu
Ya Rahman, inilah hambaMu yang hina
Mengetuk rahmatMu tiada terkira
Merengek memohon ampunanMu
Melabuhkan derita jiwa di hadiratMu
Ya Rahim, dengan segala kasihMu
Raih aku dalam dekapan RidhoMu
Peluk aku dalam hangatnya CahayaMu
Bimbing aku dalam mencintaiMu
Amin ya Robbal 'alamin
a
Jumat, 26 Desember 2008
KARAKTERISTIK IBADURRAHMAN ( HAMBA-HAMBA ALLAH YANG MAHA PENGASIH)
AlFaqiir Ahmad Saikhudin
Menurut Alqur’an QS Al Furqan:63-75
1. Berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan tawadlu’.
اَلتَّوَاضُعُ لاَ يَزِيْدُ الْعَبْدُ اِلاَّ رِفْعَةً وَتَوَاضَعُوْا يَرْفَعْكُمُ اللهُ
Tawadhu, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian (derajatnya). Oleh sebab itu tawadhulah kamu, niscaya Allah akan meninggikan (derajat)mu (HR. Dailami).
اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR. Muslim).
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبرٍْ
Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan (HR. Muslim).
2. Apabila di sapa oleh orang jahil (bodoh) mengucapkan kata-kata keselamatan (bijaksana)
3. Mereka yg waktu malamnya di lalui dengan banyak Qiyamul lail dan Tahajud.
Lihat QS As Sajadah ; 15, QS Al Isra: 79-80 dll
4. Mereka yg senantiasa meminta perlindungan dari adzab neraka.
Dengan berdo’a “ Allahuma inni as’aluka Jannah wa maa qorroba ilaha min qoulin au ‘amal, Wa a’udzubika min Shakhotika wan narr wa maa Qorroba ilaiha min qoulin au ‘amal.” Artinya “ Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan apa-apa yang mendekatkan diriku dengan surga dari perkataanku dan pebuatanku, Dan aku berlindung kepadaMu dari siksa dan nerakaMu, dan apa-apa yang mendekatku dengan neraka dari perkataanku dan perbuatanku.
5. Mereka yg apabila berinfak tidak berlebih-lebihan
6. Mereka yang tidak kikir.
Point 5 dan 6 ini artinya mereka yg berada di tengah-tengahnya, tidak berlebihan dan tidak kikir dalam berinfaq.
7. Ekonomis dan sederhana
8. Tidak melakukan kesyirikan
Lihat QS An Nisa: 16, 48.
9. Tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah
10. Tidak berbuat berzina
11. Senantiasa bertaubat
Membaca do’a Sayyidul Istighfar. “Allahumma anta Rabbi, La Ilaaha illa anta kholaqtani, wa ana abduka wa ana ‘ala ahdika wawa’dika masthatho’tu, a’udzubika min sari maa shona’tu abu’u laka bini’matika ‘alaiyya, wa abu’u bi dzanbi faghfirli, fainnahu la yaghfiruu dzunuba illa anta”. Artinya Ya Allah, Engkaulah Rabbku. Tiada Ilah yg berhak kami sembah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas janji kepadaMu, aku akan melaksanakan janjiku ini semampuku, aku berlindung kepadaMu dari keburukan-keburukan sifatku, aku mengakui segala nikmat-nikmat yg Engkau karuniakan kepadaku, dan aku mengakui banyaknya dosa-dosaku, maka sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau.
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Az Zumar:53)
12. Selalu beriman dan beramal Shalih
Mereka yg telah melakukan point 8 – 10, akan mendapatkan adzab dan siksa Allah yang berlipat ganda kecuali yg bertaubat, beriman, beramal shalih maka Allah akan mengganti dosa-dosa mereka dg kebaikan.
13. Tidak memberikan kesaksian palsu
14. Memelihara diri dan tidak terpengaruh dengan keadaan.
15. Apabila diberi peringatan dengan ayat Allah cepat tanggap dan menerima dengan ikhlas
Lihat QS Al Anfal:2-4
16. Senantiasa berdo’a untuk keluarga dan ummat (anak keturunan).
“Robbana hablana min azwajiina wadzurriyatina Qurrota a’yun Waj’alna lilmuttaqiina imamaa
Jumat, 19 Desember 2008
HIJRAH
Harus kita ingat bahwa sebenarnya hijrah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain atau dari satu negara ke negara yang lain bukan hal baru hanya diperintah kepada Nabi Muhammad Saw, tapi Nabi-Nabi sebelumnya juga diperintah dan para Nabi itu melaksanakannya. Nabi Ibrahim as diperintah oleh Allah untuk hijrah ke suatu tempat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya: Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS 29:26).
Secara harfiyah, hijrah itu berarti at turku yang artinya meninggalkan, baik meninggalkan tempat maupun meninggalkan sesuatu yang tidak baik, namun hijrah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain pada masa sekarang ini bukanlah suatu kemestian, kecuali apabila negeri yang kita diami tidak memberikan kebebasan kepada kita untuk mengabdi kepada Allah Swt atau negeri itu sudah sangat rusak yang tingkat kemaksiatan sudah tidak terkira dan sangat sulit untuk memperbaikinya. Oleh karena itu hakikat hijrah yang sebenarnya adalah apa yang disebut dengan hijrah ma’nawiyah, yaitu hijrah dalam arti meninggalkan segala bentuk yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt. Dalam hal ini Rasul Saw bersabda:
Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya (HR. Nukhari dan Muslim).
Pertama, hijrah i”tiqadiyah, yaitu meninggalkan segala bentuk keyakinan, kepercayaan dan ikatan-ikatan yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt. Ini merupakan kemestian bagi setiap muslim sehingga sangat tidak dibenarkan apabila keyakinan dan kepercayaan seorang muslim masih bercampur dengan keyakinan dan kepercayaan yang tidak Islami. Namun kita amat menyayangkan, hingga kini masih begitu banyak orang yang mengaku muslim tapi kepercayaan dan keyakinannya masih bercampur dengan kepercayaan dan keyakinan yang tidak benar.
Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah dia merubah (mencegah) dengan tangan (kekuasaan)nya, bila tidak mapu hendaklah dia merubah (mencegah) dengan lisannya dan bila tidak mampu juga, hendaklahka dia merubah (mencegah) kemunkaran itu dengan hatinya, yang demikian itulah selemah-lemah iman (HR. Muslim).
Apabila engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah (HR. Ahmad dan Bazzar).
Apabila engkau meninggalkan perbuatan yang keji, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah (HR. Ahmad dan Bazzar).
Sekurang-kurangnya ada enam peringatan atau pelajaran yang bisa kita dapatkan dari peristiwa hijrah Rasul Saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah.
Hijrah merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabat guna mendapatkan wilayah yang memungkinkan bagi tegaknya nilai-nilai Islam. Meskipun perjuangan Rasul kalau mendapatkan kesulitan akan memperoleh pertolongan dari Allah Swt, tetap saja Rasul Saw dalam perjuangannya tidak mengandalkan pertolongan Allah itu lalu beliau santai-santai saja, sama sekali tidak. Tapi beliau justeru membuat perencanaan yang matang tentang strategi perjalanan hijrah agar kendala-kendala bisa dicegah menjadi sedikit mungkin. Perencanaan yang matang itu misalnya dengan ditugaskannya Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Nabi guna mengecohkan porang-orang kafir yang hendak membunuh Nabi, perencanaan yang matang juga nampak dari tidak langsungnya Rasulullah berangkat ke Madinah, tapi beliau singgah dulu di gua Tsur selama 3 hari guna menyulitkan percarian terhadap Nabi yang dilakukan oleh orang-orang kafir, begitu juga dengan perintah kepada Umar bin Khattab guna mengalihkan opini terhadap orang-orang kafir tentang kepergian bai ke Madinah, bahkan jauh sebelumnya Rasul telah mengutus Mush’ab bin Umair untuk da’wah ke Madinah guna mendapatkan peluang wilayah hijrah bila tingkat permusuhan orang-orang kafir Quraisy semakin menjadi-jadi dan banyak lagi sisi-sisi perencanaan yang matang dalam kaitan hijrah.
Itu semua merupakan suatu isyarat dari Rasul Saw bahwa perjuangan harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, bila tidak menjadi tidak jelas target apa yang harus dicapai dan apa saja aktivitas yang harus dilaksanakan.
Dalam hijrah amat nampak bagi kita bagaimana Rasul Saw dan para sahabatnya bahu membahu dan saling kerjasama yang baik. Rasul Saw telah membagi tugas yang sesuai dengan kondisi masing-masing sahabat dan para sahabat menjalankan amanah yang diberikan oleh Rasul Saw dengan sebaik-baiknya. Tak ada dikalangan para sahabat yang iri dengan sahabat yang lain. Semuanya diterima dan dilaksanakan dengan baik meskipun resikonya sangat besar. Misalkan saja, Ali ditugaskan oleh Rasul untuk tidur di tempat tidur beliau, ini merupakan tugas yang resikonya sangat tinggi bila dilaksanakan karena Rasulullah adalah orang yang sedang dalam anacaman pembunuhan dari orang kafir dan ketika orang-orang kafior menggerebekl kamar tidur Nabi dan yang mereka dapati hanya Ali lalu Ali ditanya tentang dimana Nabi berada; dengan keberanian yang hebat Ali menjawab tidak tahu --meskipun sebenarnya dia tahu-- dan Ali akhirnya harus mengalami siksaan dari orang-orang kafir. Umar bin Khattab juga mendapat tugas dengan resiko yang berat, yakni membentuk opini dengan mengatakan: “siapa yang ingin anaknya menjadi yatim dan isterinya menjadi janda, cegahlah aku, karena aku akan segera menyusul Nabi berangkat ke Madinah”. Ungkapan Umar ini membuat orang-orang kafir menjadi heran; kapan Muhammad pergi ke Madinah, padahal beliau masih di
Itulah diantara contoh-contoh bagaimana Rasul dan para sahabatnya telah bekerjasama dengan baik dalam perjalanan hijrah itu. Ini juga menjadi isyarat bagi kita bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang diri, sehebat apapun kualitas orang itu, makanya diperlukan orang banyak dengan kualitas yang baik dalam perjuangan menegakkan Islam dan orang yang banyak itu harus bekerjasama sebagaimana bangunan yang saling kuat menguatkan dan lengkap melengkapi, inilah memang model perjuangan yang disenangi oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an yang artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS 61:4).
3. Pengorbanan Yang Besar.
Hijrah Nabi dan para sahabatnya ke Madinah juga memberikan contoh kepada kita betapa yang namanya perjuangan itu memang menuntut pengorbanan, baik pengorbanan harta, jiwa, tenaga, pikiran, waktu dan perasaan. Dengan perasaan yang berat, Nabi dan para sahabatnya harus ikhlas meninggalkan kampung halaman dan keluarga, Ali bin Abi Thalib dan Asma binti Abu Bakar hampir saja tewas karena menanggung derita penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap dirinya dengan sebab menjaga rahasia tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar di gua Tsur,
Abu Bakar sendiri berkorban dengan semua uang yang dimilikinya sebagai bekal dalam perjalanan jauh menuju Madinah, sementara sahabat-sahabat Nabi yang berada di Madinah dengan keikhlasan yang tiada terkira siap mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi dan keluarga mereka guna menolong sahabat-sahabat dari Makkah dan itu pula sebabnya mengapa mereka disebut sebagai kelompok anshar yang artinya penolong.
Dengan pengorbanan yang besar itulah, perjuangan insya Allah akan mencapai hasil yang maksimal, sedang orang-orang yang berkorban dengan penuh keiskhlasan telah dijamin oleh Allah terhindar dari azab neraka yang pedih dan mereka akan dimasukkan ke dalam syurga. Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya (QS 61:10-11).
Di dalam ayat yang lain, Allah Swt menegaskan tentang jaminan syurga itu, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka (QS 9:111).
4. Kesungguhan Yang Mantap.
Hijrah merupakan perjalanan yang jauh, mencekam dan sulit. Oleh karena itu hijrah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas agar bisa bersungguh-sungguh, tanpa kesungguhan, tidaklah mungkin hijrah itu bisa terlaksana, kalau toh secara fisik seseorang berhasil sampai ke tujuan hijrah, tidak ada nilai pahala sedikitpun dari Allah Swt, itu pula sebabnya Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang sangat kita kenal:
Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya dan yang teranggap bagi tiap orang apa yang ia niatkan. Maka siapa yang berhijrah semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah itu diteoleh Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrah karena karena keuntungan duniawi yang dikejarnya atau karena perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia niat hijrah kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Persaudaraan Yang Indah.
Setelah Rasul dan para sahabatnya tiba di Madinah, sambutan luar biasa ternyata diperlihatkan oleh orang-orang Madinah, bahkan Rasul Saw sendiri sampai bingung harus tinggal dimana, bingung bukan karena tidak ada tempat untuk beliau, tapi bingung karena hampir semua orang Madinah menginginkan agar Rasul menetap
di rumah mereka. Oleh karena itu Rasul saw menyatakan bahwa biarkan unta ini berhenti, dimana dia berhenti, disitulah saya akan menetap. Para sahabat yang lain juga diterima dengan senang hati untuk menetap di rumah kaum muslimin Madinah, bahkan ada diantara orang-orang Anshar itu yang membagi hartanya menjadi dua untuk diberikan kepada orang Muhajirin serta menyiapkan jodoh seorang wanita yang shalihah untuk diperisteri.
Persaudaraan yang indah itu diperkokoh lagi oleh Rasulullah dengan dibangunnya sebuah masjid yang kemudian diberi nama dengan masjid Nabawi, masjid yang difungsikan sebagai pusat pembinaan umat dan persaudaraan kaum muslimin merupakan sesuatu yang dibinanya.
Ini merupakan isyarat dari Rasul bahwa perjuangan yang berat dalam menegakkan ajaran Islam mesti ditopang dengan ukhuwah dikalangan kaum muslimin, bila tidak, meskipun potensi yang dimiliki oleh kaum muslimin sedemikian besar, tanpa ukhuwah akan membuat kaum muslimin menjadi tidak potensial sehingga mudah dipermainkan oleh orang-orang kafir.
6. Kebanggaan Sebagai Muslim.
Sambutan yang sedemikian hangat, persaudaraan yang sedemikian indah dan kokoh serta pembangunan kota Madinah yang berhasil dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya membuat kaum muslimin baik dari muhajirin maupun anshar semakin memiliki kebanggan sebagai muslim. Kebanggaan sebagai muslim ini merupakan modal yang sangat berarti bagi perjuangan selanjutnya dan ini memang betul-betul terjadi.
Maka dengan kemajuan yang dicapai oleh kaum muslimin membuat orang-orang kafir Quraisy iri dan dengki, merekapun akhirnya menyulut kembali api permusuhan dan dua tahun sesudah hijrah itulah meletus perang yang pertama antara kafir dengan muslim. Perang sebenarnya sudah dihindari oleh Nabi dengan hijrah ke Madinah, tapi kalau sudah hijrah mereka tatap saja menyerang, apa boleh buat; kalau musuh sudah menyerang tak pantas lagi kita lari. Dan peperanganpun dimenangkan oleh kaum muslimin.
Ini juga sebuah isyarat bagi kita bahwa kebanggan sebagai muslim itu memang sangat diperlukan agar seseorang bisa konsekuen sebagai seorang muslim, karena itu Allah memperingatkan kita agar tidak minder sebagai seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (QS 3:139).
Inilah beberapa poin diantara hal-hal yang harus menjadi hasil dari peringatan tahun baru Islam dari tahun ke tahun. Selamat tahun baru, semoga perjalanan hidup kita selalu lebih baik dari waktu ke waktu.
Senin, 15 Desember 2008
Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan
Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan
Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan2 yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.
Adalah Lathifah As Suri perempuan itu.Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main2, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus.Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.
Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid.
Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.
Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main2. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang
sewaktu2 siap menyapanya.
Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya.
Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak2 mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.
Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.
Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya.
Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati2, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak2 mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak2 mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup.Satu2nya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya."
Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak2nya.
Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan2 destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.
Lathifah sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak2nya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak2nya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.
Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak2nya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidahk meremehkan hudud
(batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak2nya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak2nya dan sepupu2nya yang berlainan jenis.
Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah.
Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam.
Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat.
Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak2nya, tentu.
**********************
Sekedar info tambahan:
Hasan Al Banna syahid diusianya yang masih muda, sekitar 40 tahunan.
Setelah seberondong timah panas ditembakkan oleh musuh2 Islam di sebuah jalan di Kairo.
Sebenarnya Hasan Al Banna masih bisa diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat la'natullah Gamal Abden Naser, membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa bantuan dari siapapun juga, termasuk dokter2 di Rumah Sakit.
Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.
Musuh2 Islam pun banyak yang tertawa dan berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak pernah pergi meninggalkan pengikutnya.
Allah terlalu mencintai hamba-Nya yang satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.
Hal yang memilukan adalah, meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun yang diijinkan untuk mensholati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah udzur, saudara perempuan dan istrinya.
(
Senin, 01 Desember 2008
KEUTAMAAN SEPULUH HARI
فضل عشر ذي الحجة
أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك
(باللغة الإندونيسية)
KEUTAMAAN SEPULUH HARI
(PERTAMA) DZUL HIJJAH
&
Hukum Berkurban dan ‘Idul Adha
Penerjemah :
Seksi Terjemah
Kantor Sosial, Dakwah
Dan Penyuluhan Bagi Pendatang
Al Sulay
Editor
Muh.Mu’inudinillah. Basri. MA.
Daftar Isi
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzul Hijjah……..……………………………3
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut………………………………..4
Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah)…………………………………5
Bagaimana kita menyambut bulan Dzul Hijjah ??……………………..………….5
Sebagian hokum-hukum berkurman dan sarat-saratnya………..…………………6
Hukum-hukum Idul Adha………….……………………………..………………...8
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين … أما بعد؛
Sesungguhnya merupakan karu-nia Allah I, dijadikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:
1. Firman Allah U:
وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ الفجر 1-2]
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (Al Fajr 1-2)
Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah“
2. Allah U berfirman:
“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(Al Hajj 28).
Ibnu Abbas berkata: “ (Yang dimaksud adalah) hari-hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) “.
3. Dari Ibnu Abbas radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ العَشْرِ " قَالُوا : وَلاَ الْجِهَادُ ؟، قَالَ: " وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ"[رواه البخاري]
Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari (amal yang dilakukan pada) sepuluh hari bulan Dzul Hijjah, mereka
berkata : Tidak juga jihad (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda: Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan kembali tanpa membawa sesuatupun (Riwayat Bukhori)
4. Dari Ibnu Umar radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (Riwayat Tabrani dalam Mu’jam Al Kabir)
5. Adalah Sa’id bin Jubair –rahimahul-lah- dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang lalu, jika datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksa-nakannya) “ (Riwayat Darimi dengan sanad yang hasan)
6. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.
7. Para ulama menyatakan: “ Sepuluh hari Dzul Hijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama ”.
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera menger-jakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.
b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah e, dia berkata:
Adalah Rasulullah e berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “ Sangat di sunnahkan “.
c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu
Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.
Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.
d. Puasa hari Arafah.
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah e bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:
Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)
e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah).
Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah e bersabda:
Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar
hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.
Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??
Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)
Wahai akhi muslim……………
Berusahalah untuk mendapatkan kesempatan yang baik ini sebelum hilang dari hadapan anda dan anda akan menyesal, betapa buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena sesungguhnya dunia ini sangat sedikit harinya dan kita sekarang di kampung amal perbuatan dan besok kita akan berada di kampung pembalasan, perhitungan, syurga dan neraka. Maka jadilah anda orang-orang yang Allah sifatkan dalam firman-Nya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami (Al Anbiya 90)
SEBAGIAN HUKUM BERKURBAN
DAN SYARI’ATNYA
Allah mensyariatkan berkurban dengan firman-Nya :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [ الكوثر : 2 ]
Maka sholatlah untuk Robbmu dan sembelihlah (Al Kautsar 2)
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya“ ( Al Hajj 36 )
Berkurban merupakan sunnah yang sangat ditekankan dan makruh ditinggalkan bagi yang mampu melaksanakannya berdasarkan hadits Anas radiallahuanhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, disembelih dengan tangannya dengan membaca tasmiah dan takbir.
DENGAN APA BERKURBAN ?
Berkurban hanya dilakukan dengan onta, sapi dan kambing berdasarkan hadits Rasulullah e:
Siapa yang menyembelih sebelum shalat (Id), maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah, maka dia telah menyempurnakan ibadahnya dan mendapatkan sunnah (Muttafaq alaih)
Disunnahkan bagi yang mampu untuk menyembelih agar menyembelih sendiri hewan korbannya dengan berkata:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلاَن (……)
“ dengan menyebut nama Allah, dan Allah maha besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dari si fulan ………(dengan meyebut namanya atau nama yang mewasiatkannya)”
Rasulullah e ketika menyembe-lih seekor domba beliau mengucapkan:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي
وَعَنْ مَنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dariku dan dari siapa yang tidak berkurban dari umatku
( Riwayat Abu Daud dan Turmuzi).
Adapun bagi yang tidak mampu meyembelih maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban.
PEMBAGIAN DAGING KURBAN
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk makan daging korbannya dan menghadiahkan kepada sanak saudara dan tetangga serta memberi fakir miskin sebagai sedekah. Allah ta’ala berfirman :
Maka makanlah sebahagian daripada-nya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir ( Al Hajj 28)
Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta ( Al Hajj 36)
Sebagian salaf (ulama terdahulu) menyukai membagi hewan korban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga untuk hadiah bagi orang kaya dan sepertiga sisanya untuk shodaqoh bagi fakir miskin. Dan tidak boleh bagi pemotong hewan dibagi daging korban sebagai upah .
LARANGAN BAGI YANG INGIN BERKURBAN
Jika seseorang hendak berkurban dan telah masuk bulan Dzul Hijjah, maka diharamkan baginya untuk mencabut rambut atau kukunya atau kulitnya hingga dia menyembelih binatang korbannya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radiallahuanha, bahwa Rasulullah e bersabda:
Jika telah masuk hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) dan salah seorang diantara kalian ingin berkurban, maka hendaklah dia tidak mencabut rambutnya dan (memotong) kukunya
( Riwayat Ahmad dan Muslim ).
Pada redaksi lain, beliau e bersabda:
Maka hendaklah dia tidak menyentuh (mencabut) rambutnya dan kulitnya sedikitpun hingga dia berkurban
Sedangkan jika dia niat berkurban di tengah hari-hari sepuluh itu, maka dia menahan dirinya sejak dia niat, dan tidak berdosa atas apa yang dia lakukan sebelum niat.
Dibolehkan bagi keluarga yang berkurban untuk mencabut (rambut, kuku) pada hari-hari sepuluh tersebut
Jika seseorang yang telah niat berkurban lalu dia mencabut rambut-nya atau kukunya atau kulitnya, maka dia harus bertaubat kepada Allah ta’ala dan tidak melakukannya kembali serta tidak ada kafarat baginya serta tidak ada halangan baginya untuk tetap berkurban. Adapun jika dia melakukan-nya karena lupa atau karena tidak tahu atau rambutnya rontok tanpa sengaja, maka tidak ada dosa baginya. Begitu juga jika dia melakukannya karena ada keperluan seperti kukunya pecah dan menyakitkannya atau rambutnya teru-rai sampai ke matanya, maka tidak apa-apa baginya memotongnya untuk menghilangkan sesuatu yang meng-ganggunya.
HUKUM-HUKUM ‘IDUL ADHA
Akhi Muslim…….
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemu-kan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.
Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesunggunya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32)
Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :
1. Takbir
Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tinggal belas Dzul Hijjah . Allah ta’ala berfirman:
Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang
(Al Baqarah 203)
Caranya dengan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “
Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.
2. Menyembelih binatang korban.
Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah e :
مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ [رواه البخاري ومسلم]
Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Waktu menyembelih kurban ada-lah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah e beliau bersabda:
Semua hari tasyrik adalah (wak-tu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)
3. Mandi dan mengenakan wewangian
Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulur-kan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.
4. Makan daging korban.
Rasulullahe tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.
5. Pergi ke tempat shalat Id
Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah e.
6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah.
Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.
7. Menempuh jalan yang berbeda.
Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah e.
8. Ucapan selamat
Tidak mengapa saling mengucap-kan selamat seperti :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kita
dan anda sekalian”.
Akhi muslim…..
Ada beberapa hal yang patut kita hindari saat hari raya :
1. Takbir secara berbarengan : Dengan satu suara atau mengikuti bersama-sama dibelakang seseorang yang bertakbir.
2. Lalai pada hari Id. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti mendengarkan lagu-lagu, menonton film, ikhtilath antar laki dan wanita yang bukan muhrim dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
3. Mencabut rambut atau memotong kuku sebelum melaksanakan penyembelihan korban, karena ada larangan Nabi dalam masalah ini.
4. Berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak perlu dan berfaedah berdasar-kan firman Allah ta’ala:
Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan “ (Al A’raf 31)
Akhirulkalam …
Janganlah anda lupa wahai akhi muslim untuk selalu berupaya men-dapatkan kebaikan seperti bersilatur-rahim, berkunjung kepada sanak saudara, meninggalkan permusuhan, kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada fakir miskin serta anak yatim serta membantu mereka dan mendatangkan kegembiraan kepada mereka.
Kita mohon kepada Allah agar memberi kita taufiq-Nya atas apa yang Dia cintai dan ridhoi.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسل
KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZUL HIJJAH
Oleh: Abdullah Saleh Hadrami
1. Allah Ta'aala berfirman:
"Demi Fajar, dan malam-malam yang sepuluh." (QS. Al Fajr: 1-2)
Ibnu Katsir -Rahimahullah berkata: "Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah". Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid dan tidak sedikit daripada Salaf dan Khalaf.
2. Dari Ibnu Abbas -Radhiallahu 'Anhuma beliau berkata: Rasulullah "Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
"Tidak ada hari dimana amal sholeh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. mereka (para sahabat) bertanya : Tidak juga jihad fi sabilillah (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan tidak kembali dengan sesuatupun. (HR. Bukhari).
3. Allah Ta'aala berfirman:
"dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan" (QS. Al Hajj: 28).
Ibnu Abbas -Radhialahu 'Anhuma berkata: " (Yang dimaksud adalah) sepuluh hari pertama (bulan Dzul Hijjah) ".
4. Dari Ibnu Umar -Radhiallahu 'Anhuma berkata, Rasulullah -Shallallaahu "Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
"Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai Allah selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid" (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Mu?jam Al Kabir)
5. Sa'id bin Jubair -Rahimahullah dan beliau adalah yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas -Radhiallahu 'Anhuma (poin 2) , jika telah datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah beliau (Sa'id bin Jubair -Rahimahullah) sangat bersungguh-sungguh (dalam beribadah dan beramal saleh) hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksanakannya) " (Riwayat Ad-Darimi dengan sanad hasan)
6. Para ulama -Rahimahumullah menyatakan: "Sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama".
7. Ibnu Hajar -Rahimahullah berkata dalam kitabnya Fathul Baari: "Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah diistimewakan adalah karena pada hari-hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada seperti itu pada waktu lainnya."
MACAM - MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN :
1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah
Diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda : "Berpuasa pada hari Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya." (HR. Muslim).
Dari Hunaidah bin Kholid dari isterinya, dari sebagian isteri-isteri Rasulullah "Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, dia berkata: "Adalah Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam berpuasa pada sembilan (hari pertama) bulan Dzul Hijjah, hari 'Asyura (sepuluh Muharram) dan tiga hari setiap bulan." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa?i).
Imam Nawawi -rahimahullah berkata tentang puasa sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah : "Sangat di sunnahkan."
3. Disyariatkan Pada Hari-hari Itu Takbir Muthlak dan Muqoyyad
Takbir muthlak dilakukan pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat ied. Disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai sholat fardhu dari sejak pagi hari 'Arafah setelah shalat Subuh (9 Dzul Hijjah) sampai shalat Ashar akhir hari Tasyriq (13 Dzul Hijjah).
Imam Bukhari menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah -Radhiallahu 'Anhum keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzul Hijjah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya.
4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa, Sehingga Akan Mendapatkan Ampunan Dan Rahmat Allah.
5. Memperbanyak Beramal Shalih.
6. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
7. Melaksanakan Shalat Idul Adha dan Mendengarkan Khutbahnya Dll...
Maraji':
- "Fadhl 'Asyr Dzil Hijjah Wa Ahkam 'Iedil Adha Wa Ahkamil Udhhiyyah". Abdul Malik Al-Qasim. Penerbit Darul Qasim.
- "Min Akhtho'ina Fil 'Asyr". Muhammad bin Rasyid Al-Ghufaili. Cetakan Pertama 1417 H. Penerbit Darul Masir, Riyadh.
- "Fadhlu Ayyam 'Asyr Dzil Hijjah". Muraja'ah Syaikh Abdullah bin Jibrin. Cetakan Pertama, Syawal 1413 H. Penerbit Maktabah Al-Ummah, Unaizah.
- "Talkhish Kitab Ahkamil Udhhiyyah Wa Adzdzakah". Syaikhuna Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -Rahimahullah. Cetakan Pertama 1413 H. Penerbit Darul Muslim.
Jumat, November 21, 2008
Kelapangan Jiwa
Bicara kelapangan jiwa adalah bicara kedewasaan. Bagaiman kita mendewasakan diri kita dengan banyaknya masalah dan ujian yang menghampiri kita. Ada saatnya kita bermasalah karena kebuntuan komunikasi, kesalahpahaman, ego diri yang dominan dan lainnya yang kadang membuat kita menjadi salah dalam mengambil sikap.Tapi sebenarnya itulah seni dalam hidup dan kehidupan bersosial. Tidak bisa kita menginginkan setiap orang harus ikut dengan keinginan kita.
Berbicara tentang kedewasaaan dan kelapangan jiwa tidak cukup dengan melihat usia seseorang. Betapa banyak mereka yang sudah berusia lanjut, tapi ketika menghadapi masalah persis seperti anak kecil. Lucu kali ya. Tapi begitulah kenyataannya.
Kelapangan jiwa adalah kematangan berinteraksi. Berinteraksi secara vertikal maupun horizontal.