Kehidupan laksana seni sebuah proses untuk menghasilkan karya dalam keabadian, menghiasinya dengan kebaikan dan kebeningan jiwa mak terciptalah keindahan yang bersih tanpa cacat dipenghujungnya yang akan selalu dikenang dan dijadikan qudwah bagi hamba yang hanif yang menyadari bahwa kehidupan ini fana dan sangat terbatas bagi kita untuk menikmatinya.
Ketika kita stagnan dalam hidup maka yang terjadi adalah kehidupan yang mati.
Kita harus bergerak melangkah meski dengan kaki tertatih bahkan terluka karena disitulah seni dari kehidupan.
Apabila kita mudah menyerah dalam kehidupan ini maka hilanglah rasa seni itu sendiri dan terhapuslah semua karya yang telah kita perbuat.
Jadi bagaimana kita memelihara karya dari kehidupan kita agar siapapun yang melihat dan bersentuhan dengan kita akan merasakan keindahan dari segala bentuk sentuhan kehidupan kita.
Terkadang didalam menciptakan karya terdapat goresan yang membuat karya itu cacat namun seriring dengan berjalannya kedewasaan kita maka kita berusaha untuk memperbaiki karya tersebut dan mempersembahkan yang terbaik untuk Allah dan juga kepada setiap insan.
Semoga hari-hari yang kulalui mampu menghasilkan karya yang indah untuk Allah juga teruntuk suamiku tercinta.
Rabu, 15 April 2009
Senin, 05 Januari 2009
Rintihan pendosa
Kicauan burung mendamaikan jiwa
Rindangnya pepohonan menghangatkan raga
Damainya alam menggugah perasaan
Keseimbangan segala ciptaan yang tiada tandingan
Segalanya tiada mampu menyentak jiwa
Hanya sekedar mengingat siapa penciptanya
Membatukah hatiku
Menjadi karangkah hatiku?
Tiada tersentuh kalbuku dengan melihat kebesaranNya
Tiada kuterhenyak dari mimpi panjanku
Tiada tergerak ragaku tuk segera menyambutNya
Tiada kuterbangun dari lamunan yang melenakan
Inilah diriku yang berselimut dosa berkarat
Berbantalkan maksiat
Bergumul dengan syahwat
Bercengkerama dengan kawat tersesat
Alam kesadaran tlah terbuka
Tapi hanya sekedar mengingatNya
Itupun tiada berselang lama
Hanya sesaat yang sangat menyiksa
Ya Robb, betapa kelu bibirku
Hanya sekedar melafalkan namaMu
Apa karena menggunungnya dosaku
Hingga Engkau menjauhiku
Sering kubercerita padaMu
Tentang dosa-dosa yang lalu
Yang sering kuingkari dan tak kuakui
Namun seiring berjalannya waktu
Kembali keterperosok dalam rayuan nafsu
Lagu rindu berseru dalam kalbu
Nyanyian waktu dikala tidak bertemu
Seakan terus melaju inginkan bersatu
Dalam waktu yang terus berlalu
Tapi rindu pada Rabbku lebih menggebu
Menerjang batas ruang dan waktu
Untaian do'a mengalun syahdu
Berarak airmata kepedihan dan pilu
Teringat noda berserak tak menentu
Lukisan hati tak seputih salju
Ternoda oleh bisikan indahnya nafsu
Ya Rahman, inilah hambaMu yang hina
Mengetuk rahmatMu tiada terkira
Merengek memohon ampunanMu
Melabuhkan derita jiwa di hadiratMu
Ya Rahim, dengan segala kasihMu
Raih aku dalam dekapan RidhoMu
Peluk aku dalam hangatnya CahayaMu
Bimbing aku dalam mencintaiMu
Amin ya Robbal 'alamin
a
Kicauan burung mendamaikan jiwa
Rindangnya pepohonan menghangatkan raga
Damainya alam menggugah perasaan
Keseimbangan segala ciptaan yang tiada tandingan
Segalanya tiada mampu menyentak jiwa
Hanya sekedar mengingat siapa penciptanya
Membatukah hatiku
Menjadi karangkah hatiku?
Tiada tersentuh kalbuku dengan melihat kebesaranNya
Tiada kuterhenyak dari mimpi panjanku
Tiada tergerak ragaku tuk segera menyambutNya
Tiada kuterbangun dari lamunan yang melenakan
Inilah diriku yang berselimut dosa berkarat
Berbantalkan maksiat
Bergumul dengan syahwat
Bercengkerama dengan kawat tersesat
Alam kesadaran tlah terbuka
Tapi hanya sekedar mengingatNya
Itupun tiada berselang lama
Hanya sesaat yang sangat menyiksa
Ya Robb, betapa kelu bibirku
Hanya sekedar melafalkan namaMu
Apa karena menggunungnya dosaku
Hingga Engkau menjauhiku
Sering kubercerita padaMu
Tentang dosa-dosa yang lalu
Yang sering kuingkari dan tak kuakui
Namun seiring berjalannya waktu
Kembali keterperosok dalam rayuan nafsu
Lagu rindu berseru dalam kalbu
Nyanyian waktu dikala tidak bertemu
Seakan terus melaju inginkan bersatu
Dalam waktu yang terus berlalu
Tapi rindu pada Rabbku lebih menggebu
Menerjang batas ruang dan waktu
Untaian do'a mengalun syahdu
Berarak airmata kepedihan dan pilu
Teringat noda berserak tak menentu
Lukisan hati tak seputih salju
Ternoda oleh bisikan indahnya nafsu
Ya Rahman, inilah hambaMu yang hina
Mengetuk rahmatMu tiada terkira
Merengek memohon ampunanMu
Melabuhkan derita jiwa di hadiratMu
Ya Rahim, dengan segala kasihMu
Raih aku dalam dekapan RidhoMu
Peluk aku dalam hangatnya CahayaMu
Bimbing aku dalam mencintaiMu
Amin ya Robbal 'alamin
a
Langganan:
Postingan (Atom)