Jumat, 19 Desember 2008

HIJRAH PARA NABI

Hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah kembali kita peringati pada tahun ini guna mendapatkan pelajaran yang berharga dari peristiwa besar itu, disebut peristiwa yang besar karena hijrah inilah yang merupakan titik tolak bagi tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata melalui terwujudnya daulah Islamiyah (negeri yang Islami), yaitu negeri Madinah. Dari peristiwa ini kita mendapat pelajaran berharga bahwa meskipun sudah ada jamaah da’wah yang dibangun oleh rasul Saw dan para sahabatnya, tetap saja tegaknya nilai-nilai Islam masih sangat jauh karena tegaknya nilai-nilai Islam memang tidak cukup hanya melalui “jamaah” dari kaum muslimin, tapi tegaknya nilai-nilai Islam juga sangat memerlukan adanya negara yang konstitusinya memungkinkan pelaksanaan ajaran Islam dalam berbagai aspek. Sekali lagi ditegaskan bahwa penegakan nilai-nilai Islam harus berlangsung secara konstitusional melalui undang-undang suatu negara, tak cukup hanya sekedar melalui jamaah da’wah yang ada di negeri tersebut.

Tidak Hanya Nabi Muhammad Saw.
Harus kita ingat bahwa sebenarnya hijrah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain atau dari satu negara ke negara yang lain bukan hal baru hanya diperintah kepada Nabi Muhammad Saw, tapi Nabi-Nabi sebelumnya juga diperintah dan para Nabi itu melaksanakannya. Nabi Ibrahim as diperintah oleh Allah untuk hijrah ke suatu tempat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya: Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS 29:26).

Disamping Ibrahim as, nabi Musa as juga harus hijrah ke negeri yang lain karena adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya, Allah berfirman yang artinya: Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu (QS 28:15).

Disamping itu terdapat juga ayat lain yang menegaskan tentang hijrahnya Musa ke kota yang lain, yaitu ke negeri Madyan atas saran seorang laki-laki yang mengetahui rencana pembunuhan atas diri nabi Musa as, Allah berfirman yang artinya: Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu” (QS 28:20-21).
Selain Ibrahim dan Musa, Nabi Nuh juga diperintah berhijrah ketika akan terjadi banjir besar dengan menggunakan perahu yang dibuatnya sendiri, Allah berfirman yang artinya: Hingga apabila perintah kami datang dan dapur (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: “muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang dan keluargamu, kecuali orang yang terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman” (QS 11:40).

Hakikat Hijrah

Secara harfiyah, hijrah itu berarti at turku yang artinya meninggalkan, baik meninggalkan tempat maupun meninggalkan sesuatu yang tidak baik, namun hijrah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain pada masa sekarang ini bukanlah suatu kemestian, kecuali apabila negeri yang kita diami tidak memberikan kebebasan kepada kita untuk mengabdi kepada Allah Swt atau negeri itu sudah sangat rusak yang tingkat kemaksiatan sudah tidak terkira dan sangat sulit untuk memperbaikinya. Oleh karena itu hakikat hijrah yang sebenarnya adalah apa yang disebut dengan hijrah ma’nawiyah, yaitu hijrah dalam arti meninggalkan segala bentuk yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt. Dalam hal ini Rasul Saw bersabda:

Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya (HR. Nukhari dan Muslim).
Apabila kita sederhanakan, sekurang-kurangnya ada empat bentuk hijrah secara ma’nawi.

Pertama, hijrah i”tiqadiyah, yaitu meninggalkan segala bentuk keyakinan, kepercayaan dan ikatan-ikatan yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt. Ini merupakan kemestian bagi setiap muslim sehingga sangat tidak dibenarkan apabila keyakinan dan kepercayaan seorang muslim masih bercampur dengan keyakinan dan kepercayaan yang tidak Islami. Namun kita amat menyayangkan, hingga kini masih begitu banyak orang yang mengaku muslim tapi kepercayaan dan keyakinannya masih bercampur dengan kepercayaan dan keyakinan yang tidak benar.
Kedua, hijrah fikriyah, yaitu meninggalkan segala bentuk pola berpikir yang tidak sesuai dengan pola berpikir yang Islami, ini berarti setiap muslim harus selalu berpikir dalam kerangka kebenaran Islam, dia tidak boleh memikirkan sesuatu guna melakukan hal-hal yang tidak benar. Di dalam Al-Qur’an Allah Swt sendiri memberikan rangsangan kepada kita agar berpikir dalam rangka taat kepada-Nya, misalnya saja ada firman Allah yang artinya: Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab?. Maka tidakkah kamu berpikir (QS 2:44).
Ketiga, hijrah syu’uriyah, yaitu meninggalkan segala bentuk perasaan yang cenderung kepada hal-hal yang tidak benar, bila orang sudah hijrah dari perasaan-perasaan yang tidak benar, maka jiwanya menjadi hidup sehingga jiwanya menjadi sensitif atau peka terhadap segala bentuk kemaksiatan yang membuatnya tidak akan membiarkan kemaksiatan atau kemunkaran itu terus berlangsung, dalam kaitan ini rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah dia merubah (mencegah) dengan tangan (kekuasaan)nya, bila tidak mapu hendaklah dia merubah (mencegah) dengan lisannya dan bila tidak mampu juga, hendaklahka dia merubah (mencegah) kemunkaran itu dengan hatinya, yang demikian itulah selemah-lemah iman (HR. Muslim).
Keempat, hijrah sulukiyah, yaitu meninggalkan segala bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah Swt. Ini berarti seorang muslim sangat tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, maka kalau yang dilarang itu tetap dikerjakan oleh manusia, cepat atau lambat, manusia itu akan mengalami akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat, begitu juga dengan perintah Allah yang tidak dikerjakannya. Sebagai salah satu contoh, zina merupakan sesuatu yang harus dijauhi oleh manusia dan bila ada orang yang melakukannya, maka hukuman yang tegas harus diberlakukan, tapi kenyataan menunjukkan bahwa zina itu dibiarkan saja terus berlangsung, bahkan fasilitasnya disediakan sementara orang yang melakukannya tidak dihukum sebagaimana hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an, maka yang terjadi kemudian adalah munculnya penyakit yang sangat menakutkan dan belum ditemukan apa obatnya sementara martabat manusia juga menjadi semakin rendah.
Dari pembahasan di atas menjadi jelas bagi kita bahwa hakikat hijrah itu sebenarnya adalah komitmen pada ketentuan-ketentuan dengan meninggalkan segala bentuk sikap dan prilaku yang tidak menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

Apabila engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah (HR. Ahmad dan Bazzar).

Apabila engkau meninggalkan perbuatan yang keji, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah (HR. Ahmad dan Bazzar).
Karena hakikat hijrah adalah melaksanakan perintah Allah dengan meninggalkan kemalasan dan kedurhakaan kepada-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan meninggalkan segala bentuk kesukaan atau kecintaan kita kepada kemaksiatan, maka hijrah itu harus kita lakukan sepanjang perjalanan hidup kita sebagai muslim, kesemua ini tentu saja menuntut kesungguhan (jihad). Karena itu iman, hijrah dan jihad merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam hidup melawan musuh-musuh kebenaran, Allah berfirman yang artinya: Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS 9:20).


PERINGATAN DARI HIJRAH
Tahun baru 1 Muharram segera kita masuki dan kita peringati dengan berbagai aktivitas yang baik dan bermutu, mulai dari do’a akhir dan awal tahun, tabligh, muhasabah, diskusi dan seminar hingga bazzar dan pameran yang kesemua itu bermuara pada keinginan kita untuk menemukan kekurangan-kekurangan kita, baik sebagai pribadi, keluarga maupun masyarakat muslim lalu memperbaiki serta meningkatkan kualitas dan kuantitas kaum muslimini, apalagi ditengah-tengah momentum kebangkitan kaum muslimin sedunia, karenanya kita amat senang dan bersyukur ketika mendapat informai tentang betapa berkembang-pesatnya kaum muslimin di belahan dunia yang lain, salah satunya adalah muslim di Amerika Serikat yang diantara indikasi kemajuannya adalah semakin bertambah banyaknya masjid dengan Islamic centernya yang pada tahun 1990 berjumlah 600 buah, kini telah mencapai 1.250 buah (Republika, 17 Mei 1996).

Setelah kita memperingati peristiwa hijrah, ada banyak hikmah atau pelajaran yang bisa kita peroleh, hal itu merupakan sebuah peringatan bagi kita juga bahwa; apabila kita ingin sukses dalam mencapai kejayaan umat sebagaimana sukses yang telah diraih oleh Rasul dan para sahabat, maka kitapun harus melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Rasul Saw dan para sahabatnya itu.

Sekurang-kurangnya ada enam peringatan atau pelajaran yang bisa kita dapatkan dari peristiwa hijrah Rasul Saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah.

1. Perencanaan Yang Matang.
Hijrah merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabat guna mendapatkan wilayah yang memungkinkan bagi tegaknya nilai-nilai Islam. Meskipun perjuangan Rasul kalau mendapatkan kesulitan akan memperoleh pertolongan dari Allah Swt, tetap saja Rasul Saw dalam perjuangannya tidak mengandalkan pertolongan Allah itu lalu beliau santai-santai saja, sama sekali tidak. Tapi beliau justeru membuat perencanaan yang matang tentang strategi perjalanan hijrah agar kendala-kendala bisa dicegah menjadi sedikit mungkin. Perencanaan yang matang itu misalnya dengan ditugaskannya Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Nabi guna mengecohkan porang-orang kafir yang hendak membunuh Nabi, perencanaan yang matang juga nampak dari tidak langsungnya Rasulullah berangkat ke Madinah, tapi beliau singgah dulu di gua Tsur selama 3 hari guna menyulitkan percarian terhadap Nabi yang dilakukan oleh orang-orang kafir, begitu juga dengan perintah kepada Umar bin Khattab guna mengalihkan opini terhadap orang-orang kafir tentang kepergian bai ke Madinah, bahkan jauh sebelumnya Rasul telah mengutus Mush’ab bin Umair untuk da’wah ke Madinah guna mendapatkan peluang wilayah hijrah bila tingkat permusuhan orang-orang kafir Quraisy semakin menjadi-jadi dan banyak lagi sisi-sisi perencanaan yang matang dalam kaitan hijrah.

Itu semua merupakan suatu isyarat dari Rasul Saw bahwa perjuangan harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, bila tidak menjadi tidak jelas target apa yang harus dicapai dan apa saja aktivitas yang harus dilaksanakan.

2. Kerjasama Yang Baik.
Dalam hijrah amat nampak bagi kita bagaimana Rasul Saw dan para sahabatnya bahu membahu dan saling kerjasama yang baik. Rasul Saw telah membagi tugas yang sesuai dengan kondisi masing-masing sahabat dan para sahabat menjalankan amanah yang diberikan oleh Rasul Saw dengan sebaik-baiknya. Tak ada dikalangan para sahabat yang iri dengan sahabat yang lain. Semuanya diterima dan dilaksanakan dengan baik meskipun resikonya sangat besar. Misalkan saja, Ali ditugaskan oleh Rasul untuk tidur di tempat tidur beliau, ini merupakan tugas yang resikonya sangat tinggi bila dilaksanakan karena Rasulullah adalah orang yang sedang dalam anacaman pembunuhan dari orang kafir dan ketika orang-orang kafior menggerebekl kamar tidur Nabi dan yang mereka dapati hanya Ali lalu Ali ditanya tentang dimana Nabi berada; dengan keberanian yang hebat Ali menjawab tidak tahu --meskipun sebenarnya dia tahu-- dan Ali akhirnya harus mengalami siksaan dari orang-orang kafir. Umar bin Khattab juga mendapat tugas dengan resiko yang berat, yakni membentuk opini dengan mengatakan: “siapa yang ingin anaknya menjadi yatim dan isterinya menjadi janda, cegahlah aku, karena aku akan segera menyusul Nabi berangkat ke Madinah”. Ungkapan Umar ini membuat orang-orang kafir menjadi heran; kapan Muhammad pergi ke Madinah, padahal beliau masih di kota Makkah. Abu Bakar Ash Shiddik juga bertugas menjadi pendamping Rasul yang setia meskipun resikonya juga sangat besar, apalagi nabi mau dibunuh yang seandainya mereka tahu dimana Nabi bersumbunyi, tentu Abu Bakar juga akan dibunuh oleh mereka. Tapi Abu Bakar tetap menjadi pendamping Rasul dalam persembunyiannya di gua tsur selama tiga hari, bahkan anak-anaknya Abu Bakar juga memberikan dukungan penuh dalam kerjasama yang baik, mereka membawakan makanan dan memberikan informasi-informasi penting untuk Rasul dan Abu Bakar.

Itulah diantara contoh-contoh bagaimana Rasul dan para sahabatnya telah bekerjasama dengan baik dalam perjalanan hijrah itu. Ini juga menjadi isyarat bagi kita bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang diri, sehebat apapun kualitas orang itu, makanya diperlukan orang banyak dengan kualitas yang baik dalam perjuangan menegakkan Islam dan orang yang banyak itu harus bekerjasama sebagaimana bangunan yang saling kuat menguatkan dan lengkap melengkapi, inilah memang model perjuangan yang disenangi oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an yang artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS 61:4).

3. Pengorbanan Yang Besar.

Hijrah Nabi dan para sahabatnya ke Madinah juga memberikan contoh kepada kita betapa yang namanya perjuangan itu memang menuntut pengorbanan, baik pengorbanan harta, jiwa, tenaga, pikiran, waktu dan perasaan. Dengan perasaan yang berat, Nabi dan para sahabatnya harus ikhlas meninggalkan kampung halaman dan keluarga, Ali bin Abi Thalib dan Asma binti Abu Bakar hampir saja tewas karena menanggung derita penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap dirinya dengan sebab menjaga rahasia tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar di gua Tsur,

Abu Bakar sendiri berkorban dengan semua uang yang dimilikinya sebagai bekal dalam perjalanan jauh menuju Madinah, sementara sahabat-sahabat Nabi yang berada di Madinah dengan keikhlasan yang tiada terkira siap mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi dan keluarga mereka guna menolong sahabat-sahabat dari Makkah dan itu pula sebabnya mengapa mereka disebut sebagai kelompok anshar yang artinya penolong.

Dengan pengorbanan yang besar itulah, perjuangan insya Allah akan mencapai hasil yang maksimal, sedang orang-orang yang berkorban dengan penuh keiskhlasan telah dijamin oleh Allah terhindar dari azab neraka yang pedih dan mereka akan dimasukkan ke dalam syurga. Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya (QS 61:10-11).

Di dalam ayat yang lain, Allah Swt menegaskan tentang jaminan syurga itu, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka (QS 9:111).

4. Kesungguhan Yang Mantap.

Hijrah merupakan perjalanan yang jauh, mencekam dan sulit. Oleh karena itu hijrah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas agar bisa bersungguh-sungguh, tanpa kesungguhan, tidaklah mungkin hijrah itu bisa terlaksana, kalau toh secara fisik seseorang berhasil sampai ke tujuan hijrah, tidak ada nilai pahala sedikitpun dari Allah Swt, itu pula sebabnya Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang sangat kita kenal:

Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya dan yang teranggap bagi tiap orang apa yang ia niatkan. Maka siapa yang berhijrah semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah itu diteoleh Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrah karena karena keuntungan duniawi yang dikejarnya atau karena perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia niat hijrah kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Persaudaraan Yang Indah.

Setelah Rasul dan para sahabatnya tiba di Madinah, sambutan luar biasa ternyata diperlihatkan oleh orang-orang Madinah, bahkan Rasul Saw sendiri sampai bingung harus tinggal dimana, bingung bukan karena tidak ada tempat untuk beliau, tapi bingung karena hampir semua orang Madinah menginginkan agar Rasul menetap

di rumah mereka. Oleh karena itu Rasul saw menyatakan bahwa biarkan unta ini berhenti, dimana dia berhenti, disitulah saya akan menetap. Para sahabat yang lain juga diterima dengan senang hati untuk menetap di rumah kaum muslimin Madinah, bahkan ada diantara orang-orang Anshar itu yang membagi hartanya menjadi dua untuk diberikan kepada orang Muhajirin serta menyiapkan jodoh seorang wanita yang shalihah untuk diperisteri.

Persaudaraan yang indah itu diperkokoh lagi oleh Rasulullah dengan dibangunnya sebuah masjid yang kemudian diberi nama dengan masjid Nabawi, masjid yang difungsikan sebagai pusat pembinaan umat dan persaudaraan kaum muslimin merupakan sesuatu yang dibinanya.

Ini merupakan isyarat dari Rasul bahwa perjuangan yang berat dalam menegakkan ajaran Islam mesti ditopang dengan ukhuwah dikalangan kaum muslimin, bila tidak, meskipun potensi yang dimiliki oleh kaum muslimin sedemikian besar, tanpa ukhuwah akan membuat kaum muslimin menjadi tidak potensial sehingga mudah dipermainkan oleh orang-orang kafir.

6. Kebanggaan Sebagai Muslim.

Sambutan yang sedemikian hangat, persaudaraan yang sedemikian indah dan kokoh serta pembangunan kota Madinah yang berhasil dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya membuat kaum muslimin baik dari muhajirin maupun anshar semakin memiliki kebanggan sebagai muslim. Kebanggaan sebagai muslim ini merupakan modal yang sangat berarti bagi perjuangan selanjutnya dan ini memang betul-betul terjadi.

Maka dengan kemajuan yang dicapai oleh kaum muslimin membuat orang-orang kafir Quraisy iri dan dengki, merekapun akhirnya menyulut kembali api permusuhan dan dua tahun sesudah hijrah itulah meletus perang yang pertama antara kafir dengan muslim. Perang sebenarnya sudah dihindari oleh Nabi dengan hijrah ke Madinah, tapi kalau sudah hijrah mereka tatap saja menyerang, apa boleh buat; kalau musuh sudah menyerang tak pantas lagi kita lari. Dan peperanganpun dimenangkan oleh kaum muslimin.

Ini juga sebuah isyarat bagi kita bahwa kebanggan sebagai muslim itu memang sangat diperlukan agar seseorang bisa konsekuen sebagai seorang muslim, karena itu Allah memperingatkan kita agar tidak minder sebagai seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (QS 3:139).

Inilah beberapa poin diantara hal-hal yang harus menjadi hasil dari peringatan tahun baru Islam dari tahun ke tahun. Selamat tahun baru, semoga perjalanan hidup kita selalu lebih baik dari waktu ke waktu.

Tidak ada komentar: